Awal Mula: Dari Misi ke Persekutuan
Perjalanan panjang Mehengke Nusa berawal dari semangat para guru injil dan penginjil asal Sangihe–Talaud yang diutus untuk melayani di Tanah Papua sejak akhir abad ke-19. Mereka datang membawa terang iman dan pengetahuan, menjadi bagian penting dalam perubahan peradaban di tanah ini — seiring dengan karya misionaris Jerman, Johann Gottlob Geissler dan Carl Wilhelm Ottow yang tiba di Mansinam pada 5 Februari 1855.
Sejak tahun 1869, para penginjil asal Sangihe-Talaud (dikenal sebagai Tuan Pinulong atau “penginjil pembantu”) mulai melayani di berbagai wilayah Papua: dari Manokwari, Sorong, Sarmi, Jayapura, hingga Sentani.
Mereka tidak hanya mengabarkan Injil, tetapi juga membangun sekolah, menanamkan nilai-nilai moral, dan membuka jalan bagi lahirnya pemimpin-pemimpin lokal di bidang pendidikan, sosial, dan gereja.
Lahirnya “Meliku Nusa” – 26 Oktober 1955

Dalam semangat kasih dan persaudaraan, para guru injil asal Sangihe–Talaud kemudian mendirikan sebuah perkumpulan sosial keagamaan bernama Meliku Nusa, yang berarti “Orang Sangihe Merantau”.
Perkumpulan ini resmi berdiri pada 26 Oktober 1955 di Hollandia (kini Jayapura), diprakarsai oleh Jacobus Breel Jonathan (J.B. Jonathan) dan M. Israel–Jonathan, dua tokoh yang dikenal sebagai penggagas dan pendiri persekutuan orang Sangihe Talaud di Tanah Papua. Tujuannya sederhana namun mendalam: menolong sesama anggota dalam suka dan duka, mempererat tali kasih, dan memelihara persatuan di tanah perantauan.
Visi awal Meliku Nusa adalah:
- Pergaulan yang sejati
- Persaudaraan dalam kasih
- Persatuan yang pasti
Pertemuan pertama diadakan di rumah kediaman J.B. Jonathan di Hollandia Binnen, dihadiri 27 orang — 20 laki-laki dan 7 perempuan. Dalam suasana penuh doa dan harapan, mereka menetapkan kepengurusan pertama dan menjadikan tanggal 26 Oktober 1955 sebagai hari lahirnya Meliku Nusa.
Sejak saat itu, semangat persekutuan dan gotong royong telah menjadi ciri khas keluarga besar Mehengke Nusa hingga kini.
Transformasi: Dari Meliku Nusa menjadi Mehengke Nusa (1969)
Pada masa integrasi Irian Barat ke Indonesia tahun 1963, banyak organisasi dibubarkan oleh pemerintah. Namun, semangat persaudaraan para anggota tidak padam.
Enam tahun kemudian, tepatnya 26 Oktober 1969, nama “Meliku Nusa” secara resmi diubah menjadi “Mehengke Nusa”, yang bermakna “Mengangkat Harkat dan Martabat Warga Sangihe Talaud di Perantauan.”
Sejak itu, Mehengke Nusa menjadi wadah resmi masyarakat Sangihe, Talaud, dan Sitaro (SATAL–SITARO) di Tanah Papua untuk memelihara kerukunan, solidaritas sosial, dan kebersamaan lintas generasi.
Makna ini juga sejalan dengan motto yang diwariskan oleh para pendiri: “Bersatu dalam Ikatan Kasih.”
Regenerasi dan Perkembangan Organisasi
Selama tujuh dekade perjalanan, Mehengke Nusa terus berkembang dan beradaptasi dengan dinamika masyarakat Papua.
Mulai dari perkumpulan sederhana tahun 1955, kemudian melewati fase reorganisasi menjadi Persekutuan Kekeluargaan Sangir-Talaud, hingga terbentuknya Persatuan Masyarakat Sangihe Talaud Siau Tagulandang dan Biaro (PM-STS Mehengke Nusa) pada tahun 2007, dan kini menjadi Kerukunan Masyarakat Mehengke Nusa (KM2N) yang mencakup seluruh provinsi di Tanah Papua.
Struktur organisasi telah mengalami regenerasi sejak kepemimpinan J.B. Jonathan hingga kini di bawah dr. John Manangsang, M.Kes., AIFO-K. Melalui Musyawarah Daerah II tahun 2023 di Sentani, dibentuk Dewan Pengurus Pusat (DPP) Mehengke Nusa periode 2023–2028, dengan visi besar: “Masyarakat Mehengke Nusa di Tanah Papua akan mengaktualisasikan peranannya dalam mengembangkan potensinya untuk mewujudkan Papua Baru yang aman, damai, adil, dan sejahtera.”
Warisan Nilai: Kasih, Persaudaraan, dan Pengabdian
Mehengke Nusa bukan sekadar organisasi, melainkan gerakan nilai dan budaya yang lahir dari pengabdian.
Ia berdiri di atas tiga pilar utama:
- Kasih – fondasi iman dan semangat melayani;
- Persaudaraan – yang melampaui batas etnis dan daerah;
- Kebersamaan – dalam membangun Papua dengan hati yang tulus.
Selama 70 tahun, Mehengke Nusa telah menjadi rumah besar bagi masyarakat SATAL–SITARO, menumbuhkan generasi baru yang berpendidikan, beriman, dan berdaya untuk Tanah Papua.
Refleksi 70 Tahun
“Yang terucap akan lenyap, yang tertulis akan abadi.” (Verba volant, scripta manent.)
— Alexander Roberth Erubun, Pewaris Amanat Pendiri Mehengke Nusa
Momentum 70 Tahun Mehengke Nusa (1955–2025) adalah saat untuk merenungkan sejarah, menghormati para pendiri, dan memperbaharui tekad generasi penerus agar terus menjaga warisan kasih dan persatuan.
Dari “Meliku Nusa” hingga “Mehengke Nusa”, dari Hollandia hingga seluruh Tanah Papua — semangat yang sama tetap menyala: melayani dengan kasih dan membangun dengan hati.
Dirgahayu 70 Tahun Mehengke Nusa di Tanah Papua
🎉 “Bersatu dalam Ikatan Kasih untuk Papua yang Damai dan Sejahtera.”
🌿 Mawu Matalentu Sikite Kebi.
Sumber:
- Dokumen Pembentukan Meliku Nusa (1955)
- Alm. Bpk. J.B. Jonathan / Bpk. H. Batunan / Nyora M.A. Jonathan – Israel
- Sekilas Riwayat 46 Tahun berdirinya PKST Mehengke Nusa di Jayapura (2001)
- Buku Hasil MUSDA I PM-STS “Mehengke Nusa” (2007)
- Wawancara dengan Para Sesepuh dan Para Mantan Ketua PKST Mehengke Nusa
- DPD Mehengke Nusa di Tanah Papua
- DPC Mehengke Nusa Kabupaten Jayapura
- DPC Mehengke Nusa Kota Jayapura
- Bpk. Alex Werimon dan Ibu Lily Mendoza
- Astha Jonathan (istri penulis)
- Alm. David Jonathan
- Margriet Jonathan Elkins
- Ibu J. Batunan Jacob
- Bpk. Eddy S. Adipati
- Bpk. M. Saselah
- Bpk. Y. Tolip
- Bpk. Pdt. F.H. Toam, S.Th., M.Si.
- Bpk. Y. Malo (alm) – Tua Jemaat Kampung Skou Mabo
- Bpk. Ambrosius Pae – Tua Jemaat Kampung Skou Yambe
- Ibu Vasthie Mangadil
- Justien Caraen (almh)
- Buku Hasil MUSDA II KM²N Mehengke Nusa (2023)
- DPP Kerukunan Masyarakat Mehengke Nusa Periode 2023–2028
- Buku Wilayah-Wilayah Zending Kita, Zending di Kepulauan Sangi dan Talaud, D. Brilman (1938) – Terjemahan BP Sinode GMIST (1986)
Tinggalkan Balasan