Guru, Penginjil, dan Perintis Misi Pendidikan dari Salurang ke Tanah Papua (1922–1984)

Nama Frederick Bachtiar Manansang tercatat dalam sejarah sebagai salah satu perintis misi pendidikan dan penginjilan di Tanah Papua.

Beliau lahir pada tahun 1907 berasal dari Salurang, sebuah kampung kecil di Tabukan Selatan, Kepulauan Sangihe Talaud — wilayah yang dikenal melahirkan banyak guru dan penginjil yang kemudian menabur terang iman dan pengetahuan ke seluruh pelosok Nusantara bagian timur.

Dengan semangat pelayanan dan keberanian luar biasa, pada tahun 1922 beliau meninggalkan tanah kelahirannya menuju Tanah Papua. Bukan untuk mencari kemuliaan duniawi, tetapi untuk menjalankan panggilan misi pelayanan: untuk mengabarkan kabar baik (Injil Kristus) dan pendidikan di Tanah Papua.

Perjalanan Pengabdian

Pengabdian Frederick Bachtiar Manansang dimulai di Kampung Namber, sebuah daerah di Pulau Numfor, Biak, di mana ia menjadi guru dan pembawa kabar baik bagi masyarakat setempat.
Dari tempat pertama itu, beliau berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain di Tanah Papua, menempuh perjalanan panjang penuh pengorbanan, menyusuri pulau, rawa, dan pegunungan dengan tekad yang tak pernah surut.

Berikut jejak perjalanan pelayanannya:

  • 1922 – Memulai karya sebagai guru dan penginjil di Pulau Numfor, Biak. Melanjutkan pelayanan di wilayah Sairery dan Manokwari
  • 1927 – Berpindah ke Pulau Ajau, Sentani
  • 1928 – Melayani di Kampung Babrongko, lalu melanjutkan ke Enggros – Tobati, Genyem, dan Kokonao
  • 1965 – Mengakhiri masa pelayanan di Kwimi, Arso, Keerom, dan menetap di sana hingga pensiun

Selama lebih dari lima dekade, beliau mendedikasikan dirinya sebagai pelayan Tuhan dan sebagai guru yang menanam nilai-nilai kemanusiaan, peradaban baru dan budaya.
Ia mengajarkan baca-tulis, memperkenalkan pendidikan dasar, dan menanamkan nilai kasih serta persaudaraan di tengah masyarakat lokal yang kala itu baru mengenal terang Injil dan ilmu pengetahuan.

Jejak Spiritualitas dan Warisan

Frederick Bachtiar Manansang wafat pada tahun 1984 di sentani dan dimakamkan di pemakaman umum Abepura, namun warisan nilai-nilai yang ia tinggalkan tetap hidup sampai hari ini. Melalui keteladanannya, lahir generasi-generasi Sangihe, Talaud, dan Sitaro di Tanah Papua yang mewarisi semangat pengabdian, kerja keras, dan kasih kepada sesama.

Karya beliau menjadi bagian dari sejarah panjang hadirnya masyarakat Mehengke Nusa di Tanah Papua — generasi yang datang bukan untuk menaklukkan, tetapi untuk membangun, mendidik, dan melayani dengan cinta.
Di setiap daerah tempat beliau pernah melayani, masih tersisa kisah, nama, dan kenangan yang hidup dalam ingatan masyarakat hingga hari ini.

Penutup

Perjalanan hidup Frederick Bachtiar Manansang mengajarkan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil dan hati yang tulus.
Beliau datang dari kampung kecil di utara Sulawesi, namun dampaknya terasa hingga ke seluruh Tanah Papua.

“Dari Salurang ke Papua, beliau membawa terang—bukan hanya cahaya iman, tetapi juga cahaya pengetahuan.”

Warisan perjuangan inilah yang menjadi fondasi bagi generasi Mehengke Nusa hari ini, untuk terus melanjutkan misi luhur: membawa terang dan kebaikan bagi Tanah Papua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *