Perintis Penginjilan dan Pendidikan di Tanah Papua (1916–1954)

Nama Guru Injil Daud Pekade dikenal luas sebagai salah satu perintis pekabaran Injil dan pendidikan di Tanah Papua pada masa awal abad ke-20.
Beliau lahir di Kampung Kulur, Pulau Sangihe, pada 5 Oktober 1898, dan menempuh pendidikan di Sekolah Pekabaran Injil dan Guru Sekolah Rakyat (SR) di Kota Gunung, Distrik Manganitu, Pulau Sangihe.

Sejak muda, Daud Pekade telah menunjukkan semangat pelayanan yang tinggi dan kesiapan untuk diutus ke medan misi yang jauh dari kampung halamannya.

Beliau menikah dengan Agustina Pangalo di Holandia (kini Jayapura).
Dari pernikahan ini dikaruniai seorang anak laki-laki: Alfons Chrisostomus Pekade, lahir di Kampung Ifar Besar, Distrik Sentani, pada 17 Mei 1933.
Selain itu, beliau juga memiliki seorang anak angkat, Dohana Pekade – Mahole.

Perjalanan Tugas dan Pengabdian

Selama 38 tahun (1916–1954), Guru Injil Daud Pekade mengabdikan hidupnya untuk penginjilan dan pendidikan di New Guinea / Irian Barat (Tanah Papua).
Berikut perjalanan tugas pelayanannya:

  • 1916–1924 – Bertugas di Holandia, tepatnya di Tobati, Enggros, dan pesisir Teluk Humboldt.
  • 1924–1926 – Dipindahkan ke Genyem dan sekitarnya.
  • 1926–1928 – Melayani di Ifar Besar, Sentani.
  • 1928–1936 – Kembali ke Genyem sebagai pusat pekabaran Injil Zending. Namun atas permintaan masyarakat Sentani Tengah, beliau kembali ke Ifar Besar hingga tahun 1936.

Pada 1 Mei 1935, ketika sekolah resmi dibuka di Holandia, Guru Daud Pekade — seorang guru asal Sangihe — dipercaya menjadi Kepala Sekolah pertama di Dondai, Sentani Meer.
Dedikasinya tidak hanya di dalam ruang kelas, tetapi juga di perjalanan misinya: setiap daerah yang ia singgahi dari Sorong, Yamna, Kaptiau, Tarfia, Bukisi, Skouw, Tobati Enggros, hingga Kayu Pulo, selalu menjadi ladang penginjilan dan pelayanan kasih.

Setelah pensiun tahun 1954, Daud Pekade tetap aktif mengajar dan melayani masyarakat di Kayu Pulo, Holandia. Ia tinggal di Holompa dan terus menebar terang Injil hingga akhir hayatnya.
Beliau wafat pada tahun 1980 dalam usia 82 tahun, dan dimakamkan di Ifar Besar, Sentani — tempat di mana banyak buah pelayanannya tumbuh menjadi generasi penerus yang beriman dan berilmu.

Warisan dan Kenangan

Kisah hidup Guru Injil Daud Pekade adalah cerminan dari keteguhan hati, kesetiaan, dan pengabdian tanpa pamrih.
Ia datang dari kampung kecil di Sangihe, menempuh perjalanan panjang menyeberangi laut, dan menanam benih iman di Tanah Papua.

Jejak langkahnya menjadi bagian penting dari sejarah peletakan dasar pendidikan Kristen dan pelayanan sosial di Holandia (Jayapura). Warisannya hidup melalui generasi penerus, para murid, dan jemaat yang telah merasakan buah dari pelayanannya.

Sumber

  1. Ibu H. Pekade – Suenaung (hidup, berusia 78 tahun pada 2021; istri dari Almarhum Alfons Chrisostomus Pekade, anak laki-laki dari Grj. Daud Pekade)
  2. A. Elsje M. Pekade (cucu pertama Grj. Daud Pekade / anak dari Alm. Alfons Ch. Pekade dan H. Pekade)
  3. Adeltje V.S. Pekade (cucu kedua Grj. Daud Pekade / anak dari Alm. Alfons Ch. Pekade dan H. Pekade)
  4. Andrico L.G. Pekade (cucu ketiga Grj. Daud Pekade / anak dari Alm. Alfons Ch. Pekade dan H. Pekade)
  5. Alfonso M.F. Pekade (cucu keempat Grj. Daud Pekade / anak dari Alm. Alfons Ch. Pekade dan H. Pekade)
  6. Melly Palege (cucu keponakan)
  7. Pendeta / Majelis Jemaat / Masyarakat / Jemaat GKI Phulende Ifar Besar Sentani
  8. Pendeta / Majelis Jemaat / Masyarakat / Jemaat GKI Ombrof Nimboran
  9. Pendeta / Majelis Jemaat / Masyarakat / Jemaat GKI Imeno Nimboran
  10. Pendeta / Majelis Jemaat / Masyarakat / Jemaat GKI Imanuel Bukisi
  11. Pendeta / Majelis Jemaat / Masyarakat / Jemaat GKI Ebenhaezer Yakonde
  12. Catatan dari Negeri Belanda (Dokumen Keluarga Pekade)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *